Baca: Selain Romantis, Yogyakarta Juga Terkenal Dengan Wisata Mistis. Inilah 5 Tempatnya!

Malioboro bisa dikatakan sebagai salah satu landmark Kota Yogyakarta setelah Tugu Pal Putih. Oleh sebab itu kenapa para wisatawan belum bisa dikatakan pernah ke Yogyakarta tanpa mengunjungi pusat perbelanjaan dan hiburan ini.

Menurut Prof. Djoko Suryo, seorang ahli sejarah, sejak dulu kawasan Jalan Malioboro hanya ada Pasar Beringharjo dan juga Kepatihan.

Jalan itu biasa digunakan oleh Keraton untuk menghubungkan Keraton Yogyakarta dan Tugu Golog-gilig atau yang sekarang dikenal Tugu Pal Putih.

Namun, sejak adanya jalur kereta api dan Stasiun Tugu yang menjadi sentral tranportasi Yogyakarta dan sekitarnya, kawasan tersebut menjadi ramai dan perlahan menjadi lebih modern.

pusat perbelanjaan malioboro
instagram.com/rezzahabibie

Terlepas dari semua itu, pernahkah kalian terbayang atau bertanya dari manakah nama jalan ‘Malioboro’ berasal? Berikut penjelasan tentang asal mula nama Malioboro, yang dihimpun dari berbagai sumber:

1. Bahasa Sansekerta

Pada versi pertama, dalam catatan seorang sejarawan P.B.R. Carey, kata Malioboro merupakan salah satu kata dari Bahasa Sansekerta ‘Malyabhara’ yang memiliki arti karangan bunga.

Pada masa kerajaan Mataram, jalur Malioboro pun selalu menjadi jalur utama tempat dilakukan upacara perayaan ataupun upacara Keraton.

Penamaan karangan bunga ini kemungkinan disebabkan karena ketika Keraton mengadakan upacara atau acara besar, maka Jalan Malioboro pun akan dipenuhi oleh karangan bunga.

2. Nama Panglima Kejaraan Inggris

Pada tahun 1912, Kerajaan Inggris di bawah pimpinan Stamford Raffles, menyerang Kesultanan Yogyakarta yang pada saat itu diperintah oleh Sultan HB ke II.

Demi bisa menggugah para pasukan Inggris untuk menaklukkan pasukan Yogyakarta, Raffles saat ini menanamkan jiwa dan semangat kepahlawanan Kerajaan Inggris yakni Duke of Malborough.

Duke of Malborough sendiri merupakan seorang panglima Kerajaan Inggris yang berhasil mengalahkan pasukan Spanyol dan Prancis dalam berpuluh-puluh kali pertempuran.

Keberanian dan kekuatan Malborough itulah yang diharapkan bisa lekat ke Pasukan Inggris karena pasukan Malborough sering melintas di jalanan tanpa nama tersebut.

Sejak saat itu pula masyarakat Yogyakarta sudah tidak asing dengan nama Malborough.

Menurut Djoko Surya, ada penyebutan khusus dalam kata ‘Malborough’ bagi masyarakat Jawa, karena sulitnya mengucapkan kalimat Bahasa Belanda dan juga Inggris penyebutan kata Malborough pun disesuaikan dengan lidah Jawa dan menjadi Malioboro.

3. Bahasa Kaili

Pada versi ketiga, asal-usul penamaan Malioboro ternyata juga bisa dijelaskan menurut Bahasa Kaili atau bahasa khas Etnis Kaili di Sulawesi Tengah.

Dalam Bahasa Kaili, kata Malioboro tercipta dari kata ‘Ma’ – ‘Li’ atau ‘Liu’- ‘Boro’. Kata ‘Ma’ memiliki arti ‘manusia’, ‘Lio’ atau ‘Liu’ berarti ‘lewat’ atau ‘Jalan yang dilewati’. Sedangkan untuk kata ‘Boro’ dalam Bahasa Kaili berarti ‘Kecil’, ‘kerdil’, atau ‘pendek’.

Bila digabungkan, kata Malioboro memiliki pengertian sebagai jalan yang dilewati oleh orang kecil.

Fakta ini mungkin bisa dibenarkan, karena orang kecil alias wong cilik yang hendak menuju Keraton sebagian besar harus melalui Jalan Malioboro, karena pada zaman dulu keberadaan jalan alternatif masih belum banyak seperti sekarang

Jalanan ini juga memiliki arti sebagai jalur yang dilewati oleh orang-orang kecil atau yang bukan keturunan ningrat.

Baca: Kisah Urban Legend Misteri Suara Drumband Malam Hari Di Jogja

Malioboro kini sudah beda. Ia tidak lagi lawas, tetapi sudah lebih milenial. Kaum muda diberi tempat untuk berekspresi, tanpa meninggalkan ciri khasnya.

tentang malioboro
instagram.com/rezzahabibie

Malioboro juga ditata sehingga tampak lebih segar. Harapannya, Malioboro tidak ditinggalkan karena usang, kumuh, kotor, dan macet.

Wajah baru Malioboro yang dikonsep oleh pemerintah, menimbulkan ekspektasi yang tinggi dari masyarakat.

Salah satunya Rizal Setyo, warga seorang mahasiswa. Rizal berharap, di Malioboro nantinya akan ada banyak karya seni yang dipamerkan dan pertunjukan seni.

“Kalau ada banyak spot untuk berfoto, pasti akan lebih ramai. Penting juga ada ruang terbuka untuk menonton pertunjukan seni. Bayangan saya, Malioboro akan menjadi muda dan penuh pesona,” pungkas Rizal yang dinukil dari situs Tirto.id.

Baca juga artikel terkait YOGYAKARTA