Sejarah adalah cermin paling jernih. Para calon pemimpin semestinya bercermin pada sejarah, bahwa kekuasaan adalah satu hal yang paling sulit dikelola.

Sejarah mencatat, tak jarang penguasa yang bernasib tragis di akhir kekuasaannya. Salah satunya adalah raja-raja Kraton Yogyakarta yang mengalami masa sulit saat memimpin Kraton.

Dilansir laman BeritaJogja.id, masa tersulit Kraton Jogja dipercaya terjadi setelah penyerangan Inggris pada tahun 1812.

Penyerangan yang dipimpin William Thorn ini mampu membuat Sultan Hamengku Buwono II menyerah pada tentara Inggris.

Yang paling menyakitkan dari penyerangan Inggris adalah selain dirampasnya benda pusaka yang bernilai seni tinggi, juga kepengecutan para pangeran.

Catatan soal para pangeran ini dituliskan oleh sejarawan, Peter Carey dalam bukunya, Kuasa Ramalan.

Berdasar penggambaran Babad Bedah ing Ngayogyakarta, Carey menuliskan bahwa banyak di antara pangeran yang semestinya memberi teladan di medan perang justru bercawat ekor dalam perlindungan pintu-pintu gerbang atau berpura-pura sakit.

Masa-masa sulit Kraton berlanjut di masa pemerintahan Sultan HB III dan IV yang cukup singkat.

Perang Diponegoro mempersulit keadaan, juga sampai tahta diturunkan kepada Sultan HB V yang saat itu masih berusia 3 tahun. Sekalipun secara administratif masih dibantu Sultan HB II, keadaan Kraton mulai jatuh.

Ketika Sultan HB V sudah cukup dewasa, ia tumbuh menjadi raja penyayang dan menolak kekerasan.

Dari penelitian Djoko Dwiyanto, Arkeolog UGM, pertama-tama ia membenahi Kraton dengan melakukan reformasi birokrasi di dalam Kraton.

Kondisi bangunan di lingkungan Kraton mulai dibangun dan ditata seperti sedia kala yang dilanjutkan dengan upaya pengembalian barang-barang rampasan saat masa perang sebelumnya.

Banyak beban politik dan sosial yang harus ditanggung oleh Sultan HB V. Ia harus memulihkan konstelasi politik di Kraton sekaligus menyembuhkan psikologis rakyat yang trauma atas perang.

Ketika Belanda kembali berkuasa Sultan HB V memilih berperang taktik pasif agar tidak lagi terjadi perang yang menghancurkan rakyat dan Kraton Jogja.

Lanjutkan Membaca >