Pada tahun 1980an gelombang mahasiswa-mahasiswa luar daerah ke Jogja semakin besar. Apalagi setelah peristiwa Petrus (penembakan misterius) yang sempat terjadi pada 1983 – 1985.

Jogja aman, tulis koran-koran nasional dan lokal yang bikin orang tua di kampung merasa lega sehingga semangat untuk mengirim anaknya kuliah ke Kota Pelajar ini. Kampus-kampus baru pun mulai bermunculan dan membuka pedaftaran mahasiswa.

Dan yang menarik pada saat itu adalah kesulitan financial yang dialami oleh mahasiswa dari luar Joga pas tanggal tua.

Gak seperti sekarang yang serba mudah, di mana sudah ada ATM yang tersebar di berbagai lokasi atau adanya aplikasi m-banking di ponsel yang tinggal klik uang kiriman sampai ke dompet.

Berbeda dengan zaman dulu, di mana proses pengiriman uang hanya dilakukan melalui wesel sehingga menunggunya cukup lama.

Baca: 5 Modifikasi Mie Instan Yang Cuma Ada Di Jogja, Enak & Patut Dicoba!

Nah, kalau pas tanggal tua, biasanya mahasiswa tahun 1980-an banyak yang ke Shooping Center.

Mereka membawa baju-baju yang layak pakai dan ada juga yang baru satu bulan beli lalu dijual di sana. Uang dari hasil penjualan tersebut lah yang dipakai untuk makan dan beli buku.

“Nah tahun 1980-an itu ada istilah berjibaku di kalangan mahasiswa perantauan. Itu akronim, artinya jual baju dapat buku. Nah kalau beli buku yang murah-murah saja, terus uang sisanya buat makan sambil nunggu wesel,” terang Iswahyudi mahasiswa IKIP tahun 86 sambil terkekeh.

Keperluan mahasiswa Jogja tahun 80-an memang enggak bisa terlepas dari yang namanya buku. Google belum hadir pada waktu itu. Jadi kalau mau mengerjakan tugas atau mencari data skripsi ya mesti ke perpustakaan.

Baca: Ini Sejarah Selokan Mataram, Kamu Mesti Tahu!

“Nah banyak tuh yang di-blacklist sama Perpus karena belum balikin buku jadi enggak berani ke sana. Jadinya beli buku di Shooping karena harganya lebih murah daripada bayar denda. Tapi ya jual baju dulu,” lanjutnya lalu tertawa.

Sumber: Berita Jogja