Kalau kamu sedang jengah atau mulai lelah di tengah situasi jagad nyata dan maya yang semakin menggila ini. Maka komedi lah solusi alternatif yang bisa membuatmu kembali tertawa bahagia.

Dunia komedi adalah dunia paling jujur, begitulah ucapan Aa’ Andre dalam wawancara di acara tv Mata Najwa. Tentu saja saya sangat sepakat. Sebuah komedi harus memiliki unsur kejujuran yang sangat tinggi meski terkadang menyakiti. Maksud dari menyakiti sendiri adalah ketika candaan itu kelewat batas.

Bercanda itu hak semua orang, bebas, dan siapa pun boleh. Asal bercandanya tak menyinggung soal agama, bencana, apalagi fisik orang. Komedian juga harus pintar-pintar dalam mencari bahan supaya para penonton bisa tertwawa dan menikmati candaannya.

tukul-arwana-dan-sule

Kini banyak sekali komedian yang bisa anda nikmati di tanah air. Sebut saja Tukul Arwana dan Entis Sutisna alias Sule. Yah, keduanya adalah komedian yang sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Sepertinya anda setuju kalau saya menyebut nama terakhir sedang dalam masa puncak-puncaknya saat ini.

Kembali ke laptop, eh salah, ke dunia komedi. Komedi yang renyah itu bisa dinikmati siapa saja dan bisa merubah jidat kerut merut manusia menjadi senyum tawa.

Di negara kita, negeri yang sudah terbiasa dengan kalimat “penderitaan dan kemiskinan adalah pengalaman sehari-hari”. Komedi justru menjadi sebuah jawaban. Namun bukan hiburan yang melulu soal mengocok perut. Akan tetapi mampu mengantarkan kita kepada kenaikan kelas masyarakat.

Kita harus memastikan, bahwa komedi bukan kemiskinan, komedi bukan kebodohan dan bukan pula penyalur nafsu-nafsu agresif. Dari sana baru kemudian kita bisa menyimpulkan bahwa pada akhirnya, komedi adalah gairah. Kecuali kekecewaan barangkali ia adalah komedi yang bernasib buruk.