Presiden Jokowi menginginkan agar dunia pendidikan di Indonesia bisa menyiapkan sumber daya manusia yang siap pakai dan bisa meningkatkan bidang ekonomi.

Namun kini jurusan-jurusan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sampai perguruan tinggi dianggapnya tidak mengikuti perkembangan zaman.

“Saya lihat, jurusan-jurusan yang ada sama saja di universitas. Mohon maaf kalau di SMK saya lihat jurusannya dari saya kecil misalnya jurusan mesin, jurusan bangunan, jurusan listrik. Ya itu-itu saja saya lihat. Padahal dunia sudah berubah cepat sekali,” kata Jokowi dilansir laman Detik.com, Kamis (2/2/2017).

Perlu ada perubahan dalam memperbaharui kemampuan sumber daya manusia. Tentu konteksnya harus sesuai dengan kondisi saat ini.

Jokowi usul supaya jurusan-jurusan di SMK bisa lebih inovatif dan kreatif, misalnya jurusan vlog yaitu jurusan khusus membuat video blog. Di mana vlog akhir-akhir ini sedang banyak digandrungi lewat jejaring sosial Youtube.

“Mestinya jurusannya misalnya jurusan mengenai jaringan IT, misalnya membuat video blog, kan gitu dong, jurusan membuat aplikasi-aplikasi, jurusan animasi misalnya, yang ‘in’ gitu,” kata Jokowi.

Perlu kepekaan menangkap hal-hal yang sedang ‘in’ alias sedang banyak diperhatikan oleh masyarakat baru-baru ini, termasuk dalam berinovasi dalam dunia pendidikan. Tak hanya dalam lingkup SMK, dalam lingkup universitas juga didorong Jokowi untuk lebih berinovatif.

“Di Universitas juga misalnya harus mulai mengubah hal-hal yang berkaitan dengan jurusan. Kenapa tidak ada jurusan logistik yang sangat dibutuhkan sekarang ini, jurusan retail, jurusan khusus mengenai toko online,” sambung Jokowi.

Baca Juga: Kocaknya Jokowi Menanggapi Pertanyaan dari YouTuber Indonesia Ini

Dan yang tak kalah penting, perhatian dunia terhadap masalah krusial juga harus disikapi oleh kalangan cerdik pandai ini. Kini dunia sedang menghadapi problem terorisme dan radikalisme. Jokowi juga megusulkan agar ada jurusan terorisme dan radikalisme untuk mengkaji permasalahan ini secara ilmiah dan sampai ke detailnya.

“Tantangan ke depan saya kira ya sangat berat. Hampir semua negara menempatkan pada ranking yang pertama, mengenai terorisme dan radikalisme. Mengapa tidak ada jurusan (anti) terorisme dan radikalisme? Karena sekarang semua bergerak cepat sekali,” pungkas Jokowi.