Kawasan malioboro Yogyakarta kini memang sudah terlihat ciamik sejak selesai direnovasi beberapa waktu lalu.

Kini Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan melengkapi kawasan Malioboro dengan toilet kualitas bintang 5. Toilet bintang 5 disiapkan untuk memfasilitasi turis-turis asing yang datang dan menikmati kawasan pedestrian Malioboro.

Gubernur Sri Sultan HB X mengungkapkan, saat ini DIY sudah tidak lagi bicara lokal, tetapi sudah waktunya berbicara internasional. Keberadaan bandara di Kulonprogo, New Yogyakarta International Airport (NYIA) menjadi tonggak baru DIY memasuki kancah internasional. Sebab, bandara baru ini akan dibangun dengan desain yang mampu menampung pesawat berbadan besar.

“Banyak maskapai penerbangan internasional yang sudah menyatakan minatnya melakukan penerbangan langsung,” ucapnya dikutip laman Okezone.

Sultan Jogja ini yakin jika dengan dibangunnya bandara baru maka arus wisatawan asing yang datang ke DIY semakin padat. Maka dari itu, masyarakat DIY sudah harus mulai mempersiapkan diri menyambut kedatangan wisatawan asing tersebut.

Menurutnya, standarisasi sangat diperlukan dalam berbagai hal untuk menyambut wisatawan tersebut.Salah satunya standarisasi fasilitas di destinasi wisata. Oleh karena itu, pihaknya akan membangun toilet kualitas bintang 5 di kawasan Malioboro.

Untuk tahap awal, toilet bintang 5 tersebut akan dibangun di depan Taman Pintar. “Jadi nanti masyarakat jangan kaget kalau ada toilet kualitasi bintang 5 di Malioboro. Karena memang sudah saatnya,” ujarnya.

Keberadaan bandara baru di DIY memang harus diimbangi dengan kerja keras. Apalagi saat ini fokus pemerintah pusat mendirikan bandara baru tersebut untuk mengembangkan kawasan wisata Candi Borobudur yang notabene berada di Jawa Tengah.

Berbagai fasilitas penunjang untuk memperlancar arus wisatawan ke Borobudur telah disiapkan. Dia berharap masyarakat DIY siap mengambil manfaat bandara baru tersebut. Misi menginap di Yogyakarta untuk melihat Borobudur harus dikedepankan, bukan malah nanti wisatawan menginap di Borobudur untuk melihat Yogyakarta.

Oleh karena itu, harus ada inovasi dalam industri pariwisata di DIY dengan segala keunggulannya. “Standarisasi dan diversifikasi sangat diperlukan dalam industri ini,” katanya.

Ketua Asita DIY Udi Sudiyanto mengaku harus ada standarisasi destinasi wisata di DIY. Fasilitas dan layanan maksimal harus melalui standarisasi tertentu agar wisatawan tidak merasa dikecewakan.

Jika wisatawan yang berkunjung ke sebuah destinasi wisata puas maka paling tidak ada jaminan wisatawan tersebut kembali atau minimal merekomendasikan ke wisatawan yang lain.

“Jangan sampai apa yang ada dalam brosur ataupun dalam berita di media sosial tentang kelebihan destinasi tersebut justru tidak sesuai dengan kenyataan,” tandasnya.