Baca Juga: Seorang Ibu Jatuh dari Motor yang Terekam Kamera Google Ini Jadi Viral

Hidup ini penuh misteri. Jangankan menjawab pertanyaan kapan hari kiamat terjadi, atau bagaimana bumi bisa terbentuk? Berbagai pertanyaan sederhana tentang apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari saja seringkali kita tak bisa jawab.

Namun, berkat adanya ilmu sains beberapa pertanyaan sederhana seperti di bawah ini sudah bisa dipecahkan, berikut penjelasannya:

1. Mengapa seseorang bisa kesasar?

‘Kesasar’ ternyata cukup sulit untuk dihindari, meski kita sudah mengikuti arahan dari teman yang rumahnya akan kita tuju, tetap saja nama-nama jalan yang hampir sama selalu membingungkan. Ternyata ada beberapa faktor dalam otak kita yang membuat ‘kesasar’ bukan hal yang tidak normal.

Kemampuan otak dalam hal navigasi berada pada satu sisi yang sama dengan bagian otak yang bertanggung jawab untuk menyimpan memori. Hippocampus dan entorhinal contex adalah komponen yang bertanggung jawab akan hal tersebut. Namun berbeda dengan ketika kita mengingat memori, dalam mengingat arah jalan, sel yang menyimpan memori arah akan bisa lebih teraktivasi ketika kita berada di jalan tersebut. Sehingga setiap kita melewati sebuah jalan, dalam beberapa kali saja akan ada ‘peta’ dalam otak kita.

Nah, terjadinya tersesat ini ternyata disebabkan oleh sinyal lemah di entorhinal cortex dalam otak seseorang, di mana hal ini akan menyebabkan seseorang tersebut mempunyai kesulitan yang lebih dalam hal navigasi di lingkungan baru.

2. Mengapa seseorang bisa lebih rupawan di foto ketimbang aslinya?

Fenomena ini sangat sering kita jumpai di sosial media, di mana seringkali hal ini membuat kita ‘curiga’ jika kita melihat seseorang yang tak kita kenal, memiliki foto yang rupawan. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Ada beberapa faktor, dan yang paling mendasari adalah bagaimana struktur wajah kita berbentuk. Jika kamu mengamati secara detil ketika bercermin, kamu akan mendapati wajahmu tak simetris, dan ini ternyata cukup normal. Wajah yang ternyata miring, dagu yang bengkok, gigi yang tak sejajar garis wajah, dan banyak yang lainnya.

Hal ini tiba-tiba menjadi penting ketika kita mengenal budaya foto dan selfie. Hal ini bisa dijelaskan oleh sebuah efek bernama ‘mere-exposure’ yang dipaparkan psikolog bernama Robert Zajonc para 1968 silam.

Teori itu menjelaskan bahwa seseorang akan bereaksi baik kepada seorang yang dilihat lebih sering. Karena kita sering bercermin, kita tahu sudut mana dari wajah kita yang terlihat menarik, dan kita menyukai wajah kita dengan sudut tersebut. hal ini berimbas kepada kebiasaan foto dan selfie, yang mungkin tak disadari oleh seseorang.

3. Mengapa sebelum turun hujan sering merasa gerah?

merasa gerah saat hujan
via dv.is

Tentu kita sering mengeluh, mengapa di musim hujan selalu suhu jadi panas. Atau suhu yang panas ini jadi indikator mudah untuk memprediksi bakal hujan. Mengapa hal bisa ini terjadi?

Bila kita cek prosesnya, mendung atau awan itu sejatinya adalah kumpulan dari uap air hasil pemanasan sinar matahari dari laut, sungai, danau, dan tempat berkumpulnya air lain. Mirip seperti kepulan asap yang keluar saat kita membuka tutup panci yang airnya sudah mendidih.

Singkatnya, udara panas membawa lebih banyak uap air ketimbang udara yang dingin. Nah, saat udara panas atau mendung itu tadi semakin naik ke atas, akhirnya bertemulah dia dengan udara dingin.

Saat bersatu dengan udara dingin itu, mendung akan melepaskan panasnya. Dan panas itu yang kita rasakan sebelum hujan. Saat semua panas itu terlepas, pasti kita merasa udara mulai dingin, dan saat itu lah hujan akan turun. Hujan sendiri pada dasarnya adalah uap air yang mengembun.

4. Mengapa logat seorang susah hilang?

Seringkali kita bertemu dengan seseorang dengan logat daerah yang sangat tebal. Meski seseorang sudah bertahun-tahun merantau, logat dari daerah asal tetap sulit untuk dihilangkan. Meski otak kita sangat mudah dalam mengenali dan belajar logat tertentu, hal tersebut sangat sulit ditransfer ke pembicaraan kita. Mengapa? Menurut para ilmuwan, hal tersebut sudah muncul sejak kita masih bayi, dan belum mampu bicara sepatah kata pun.

Dilansir dari Wired, para ilmuwan dari University of Washington mencoba melibatkan bayi-bayi dari berbagai suku. Mereka diperdengarkan suara-suara yang kental dengan nuansa Jepang dan Inggris. Pada bayi berusia 6 bulan, mereka merespon suara-suara tersebut dengan setara. Namun menginjak 10 bulan, bayi mulai tidak mengenal suara yang tidak ada di bahasa ibunya. Seperti bayi Jepang yang tidak menghiraukan huruf “r” dan “l” yang tidak umum di bahasa Jepang, namun umum di bahasa Inggris. Kesulitan untuk mengenali bahasa yang bukan bahasa Ibu memang cepat, namun untuk mempraktikkannya, dari lahir pun sulit.

Kita memulai belajar bahasa dengan melihat sekitar, dan meniru orang tua, dan otak kita seakan-akan membentuk ‘perpustakaan’ yang membuat kita tetap fasih berbahasa. Namun ketika kita mendengar bahasa atau dialek yang baru, otak kita menempuh proses yang sama dalam belajar, namun tetap merujuk pada ‘perpustakaan’ bahasa asli yang kita pelajari.

Maka dari itu, otak kita tidak menggunakan dialek atau bahasa yang baru, hanya mengambil perkiraan kasar suara yang sudah kita mengerti di otak kita. Itulah mengapa meski seorang bule sangat fasih berbahasa Indonesia, tetap saja muncul aksen kebule-bulean mereka.

Lanjutkan Membaca >

Incoming search terms: