Sekitaran tahun 1943, penjajah Jepang tengah gencar mengadakan Romusha (buruh yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia) untuk mengambil kekayaan alam Indonesia guna mendukung perang mereka melawan sekutu.

Raja Yogyakarta kala itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX telah mengetahui kekejaman tentara Jepang. Ia memikirkan bagaimana menyelamatkan rakyat Yogyakarta supaya terhindar dari Romusha.

Dengan cerdik, kemudian kepada Jepang beliau mengatakan bahwa Yogyakarta adalah daerah tandus kering dengan hasil bumi berupa ketela. Karena itu Sultan meminta Jepang supaya menyuruh rakyat Yogyakarta membangun selokan yang menghubungkan Kali Progo dengan Kali Opak.

Sehingga nantinya di musim kemaraupun lahan pertanian di Yogyakarta dapat menghasilkan padi dan bisa membantu kebutuhan tentara Jepang.

Ternyata Jepang mengiyakan sabda Sultan dan terbebaslah warga dari Romusha, diganti dengan membangun saluran air yang sebenarnya untuk kemakmuran warga juga.

Mulai sejak ada Selokan Mataram, kehidupan rakyat Yogyakarta lebih makmur dari pada seblumnya. Selokan yang memiliki panjang 31 KM itu sudah mengairi beberapa ribu hektar tempat pertanian hingga saat ini.

Jika kamu tertarik, kamu bisa menelusuri Selokan Mataram hingga ke hulunya di Progo. Semakin ke hulu, kamu akan disuguhi pemandangan alami pedesaan dan keramahan warga Yogyakarta.

Lanjutkan Membaca >

Incoming search terms: