Sultan Hamengku Buwono IX lahir pada 12 April 1912. Ibunya, bernama R. A. Kustilah yang merupakan putri dari Pangeran Mangkubumi yang kemudian menyandang gelar Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom dan satu-satunya garwa padmi dari Gusti Pangeran Haryo Puruboyo atau Sultan HB VIII.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX dinobatkan sebagai Raja Mataram pada usia yang terbilang muda, saat itu 27 tahun. Beliau merupakan Raja Kraton Yogyakarta yang terkenal dengan filosifi kepemimpinan “Tahta untuk Rakyat”. Sebagai seorang raja keraton, ia adalah seorang demokrat yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada rakyat. Beliau juga satu-satunya dari kalangan kraton Yogyakarta yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Dinamakan Dorojatun sewaktu kecil, tetapi beliau justru lebih akrab dipanggil dengan sebutan Henkie. Nama Henkie sendiri didapatkan dari keluarga Belanda yang bernama Mulder, waktu Dorojatun mulai hidup bersama mereka. Nama sapaan Henkie atau Henk yang kecil, juga jadi nama sapaan akrabnya sampai dia belajar di Belanda.

Ketika umurnya menginjak 4 tahun, Dorojatun atau yang akrab disapa Henkie telah meninggalkan Kraton Jogjakarta. Sepanjang hidupnya sebelum dinobatkan sebagai Raja Mataram, Henkie memperoleh pendidikan dari luar Keraton. Bahkan juga ia tak pernah memperoleh pelayanan istimewa dari para abdi dalam.

Baca Juga: Yuk Mengenal Nama-Nama Perkumpulan Golongan Bangsawan di Jogja

Henkie sengaja dititipkan oleh ayahnya, Sultan Hamengku Buwono VIII kepada keluarga di luar kerajaan. Langkah itu dilakukan oleh Sultan HB VIII untuk mendidik Henkie selaiknya masyarakat biasa, tanpa memperoleh keistimewaan dari Kraton. Hal tersebut jelas sangat berbeda dengan para pangeran yang biasanya hidup mewah di kalangan keraton.