Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar putri keraton? Umumnya, orang akan membayangkan sosok wanita yang lemah lembut, berpenampilan tradisional dengan kebaya dan sanggul serta selalu ditemani dan dilayani dayang-dayang.

Image putri keraton yang muncul selama ini memang demikian adanya, karena pengaruh tayangan film atau media. Namun, menurut GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Hayu yang dilansir laman Wolipop, kebanyakan anggapan orang awam tentang sosok putri keraton merupakan stereotipe, alias tidak sepenuhnya benar.

“Ada satu mantan bawahanku yang bilang, ‘(kamu) menghancurkan bayanganku tentang seorang princess’. Banyak yang mengira kita hidupnya masih seperti Cinderella dengan dayang di mana-mana,” ujar GKR Hayu.

Putri Keraton Yogyakarta ini mengatakan kehidupan keraton di masa sekarang sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa sekitar 20-30 tahun lalu.

Apa saja stereotipe yang keliru menurut GKR Hayu?

1. Putri Keraton selalu penurut dan berbicara halus

“Banyak orang kira putri keraton nggak boleh bawa yang berat-berat, kalau ngomong semuanya halus, manis. Karena kebanyakan orang Jawa halus kalau ngomong. Sementara kami dibesarkan sama sekali tidak seperti itu,” kata putri keempat dari Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas ini.

GKR Hayu mengatakan image dirinya di keraton dan di mata para bawahannya cenderung kritis dan galak. Ketika harus berdebat untuk sesuatu yang menjadi prinsipnya atau dirasanya benar, maka GKR Hayu tak segan untuk bersikap tegas.

2. Putri Keraton selalu dilayani layaknya permaisuri

Satu lagi stereotipe yang salah di kalangan awam menurut GKR Hayu, adalah seorang putri keraton harus selalu dilayani. Pada kenyataannya, wanita yang ahli di bidang IT ini beserta keempat saudara perempuannya sudah diajar mandiri sejak remaja.

“Kuliah S1 kami diharuskan di luar negeri, supaya mandiri. Karena di rumah pembantu banyak dan di Jogja posisi anak sultan sangat ‘wow’. Mau nggak mau unconsciously ada special treatment,” ujar wanita lulusan Design and IT Project Management di Bournemouth Univesity, Dorset, Inggris ini.

Hal itulah yang berusaha dicegah Sultan Hamengkubuwono X dan istrinya, GKR Hemas. Saat sekolah di luar negeri, putri-putrinya tidak boleh membawa asisten atau pelayan dan harus hidup sendiri. Tujuannya supaya saat pulang ke Indonesia, mereka jadi wanita yang mandiri.

3. Dikelilingi para pengawal ribadi

“Ibu bilang ajudan bapak adalah ajudan yang kerjanya paling enak. Karena kita sekeluarga justru risih kalau diikutin. Kami sering ditanya, ‘kok nggak bawa ajudan?’ segala macam,” tutur GKR Hayu.

4. Abdi Dalem adalah pembantu raja

Hal inilah yang coba dijelaskan GKR Hayu tentang anggapan orang bahwa abdi dalem adalah ‘kata lain’ dari pembantu atau pelayan. Sebab, dua posisi tersebut adalah sesuatu yang berbeda.

“Abdi dalem adalah abdi budaya, voluntir. Mereka relawan yang mengabdikan waktunya untuk berkontribusi pada keraton. Abdi dalem adalah voluntir waktu, mengabdi,” jelas GKR Hayu.

Oleh karena itu keraton Yogyakarta tidak pernah melakukan perekrutan untuk mencari abdi dalem. Tapi mereka sendiri yang mengajukan permohonan atau pengajuan diri dengan siap berkomitmen untuk berkelakuan baik dan menunjung tinggi tata krama, serta setia mengabdi pada Sultan.

Baca Juga: Saat Perempuan Jogja Lebih Beradab dari Laki-Laki, Ini Fakta Sejarahnya

Incoming search terms: